Showing posts with label Short story. Show all posts
Showing posts with label Short story. Show all posts

Sunday, 17 May 2015

Worst Love Confession

"Apa ini"?, dia bertanya sambil memegang paper bag kecil berwarna coklat yang baru saja kuserahkan padanya.
"Hanya coklat. Coklat yang bodoh!", jawabku sembari membalikkan tubuh dan terburu-buru menutup pagar lalu langsung menuju kamar kostku.

Hari ini sekali lagi aku menyatakan cinta dan melepaskan cinta. Aku pernah melakukannya sebelumnya, karena lelaki yang kusukai itu begitu bijak di mataku hingga aku percaya saja saat dia bilang "Kamu harus jujur untuk bisa menuntaskan masalahmu". Aku menghindari dia begitu lama dan bersikap begitu cuek padanya karena ingin melupakan perasaan sayangku padanya yang kutahu pasti tidak akan terbalaskan. Dia terusik dengan sikapku dan akhirnya memaksaku untuk jujur sebenarnya apa yang membuatku begitu menghindarinya. Dan aku melakukan apa yang dia pinta. Aku mengaku padanya. Jawaban atas pengakuanku pun sama seperti yang telah kuduga. Dia menolakku dengan halus. Sakit tapi sedikit saja. Besoknya aku sudah bisa bersikap biasa padanya dan perasaanku untuknya juga berangsur hilang. Metode ini akhirnya kugunakan lagi. Saat aku jatuh cinta lagi. Cinta yang tak akan terbalas lagi. 

"Apa dia memang suka menyendiri seperti itu?", aku bertanya pada Halim, yang duduk di sebelahku. Mataku mengarah pada seorang anak lelaki yang sedang duduk sendirian di depan drumset. Beberapa peserta latihan pertunjukan musik tahunan Sekolah Musik Melody tengah berseliweran berdua atau dalam grup tapi anak lelaki yang kutanyakan pada Halim tengah duduk sendirian dan mengutak-atik handphone-nya sedari tadi. Hari ini adalah hari kelima kami latihan bersama di aula sekolah, dan kelima kalinya aku melihat dia selalu sendirian sepanjang break latihan. Aku yang penasaran akhirnya bertanya pada Halim tentang sikapnya itu. 
"Oh, gak sih. Kalau udah kenal lumayan banyak ngobrol kok", Halim menjawab seakan dia pernah mengobrol akrab dengan anak itu. 
"Masa? Kamu emang dekat sama dia?", selidikku. 
"Yah kan aku sekelas sama dia di kelas drum Sy. Emang agak pendiam anaknya, tapi kalo udah kenal bisa ngobrol enak juga. Kenapa sih nanyain dia?", Halim menaikkan alisnya menandakan dia curiga dengan rasa penasaranku tentang anak itu. 
"Gak, habisnya dia selalu sendirian tiap aku liat. Penasaran aja kenapa. Kasian liatnya. Kek gak punya teman gitu. Kalo dia diasingkan atau lainnya gak tega aku. Siapa namanya?", aku jujur pada Halim tentang alasanku bertanya karena memang aku paling tidak tega melihat orang ditinggal sendirian.
"Darel. Samperin dah kalo gitu, ajakin ngobrol. Baik kok". Halim melangkah mendekati anak itu lalu mengulurkan tangannya untuk melakukan tos khas anak lelaki saat bertemu. 
"Apa kabar Rel? Makin mantap aja main drumnya". Aku yang berdiri di samping Halim pun tersenyum dan mengulurkan tangan hendak berkenalan. 
"Hi, aku Sisy, dari tim choir. Aku teman dan tetangganya Halim. Nice meeting you", aku yang memang sudah terbiasa mengajak orang lain berkenalan tidak menunggu Halim memperkenalkanku lagi padanya. Dia menyambut uluran tanganku dan tersenyum simpul. 
"Hi, aku Darel. Nice meeting you as well", jawabnya dan saat dia tersenyum sedikit lebih lebar hingga barisan giginya terlihat, aku menyadari kalau gigi taringnya begitu menonjol hingga dia terlihat seperti drakula yang tersenyum jahat sebelum menggigit mangsanya.
"Bagus kamu main drumnya. Lebih bagus dari Halim", ledekku hingga Halim memasang tampang cemberut tanpa membalas karena dia tahu aku benar. 
"Oh, makasih. Halim juga lumayan kok", jawabnya pendek. 
"Ke kantin yuk, masih lumayan lama break-nya. Haus aku."
Aku yang menangkap keengganan Darel mengikuti ajakanku memberi isyarat pada Halim untuk mendorongnya bangun, saat dia telah sepenuhnya berdiri kami berduapun sedikit mendorongnya dari belakang berjalan ke arah kantin. Entah kenapa aku tertarik mengusik Darel dan kesendiriannya. Pikirku mungkin karena dia terlihat menyedihkan dan tidak punya teman hingga aku ingin bersikap sok pahlawan dan sukarela berteman dengannya, lagipula aku memang suka berteman dengan siapa saja jadi kenapa tidak. 

Kantin telah ramai dengan murid-murid lain, beberapa telah duduk manis menikmati makan siang mereka sambil sesekali berbincang dengan teman semeja makan mereka, beberapa masih ada yang berdiri dan sibuk memilih menu yang mereka sukai. Uniknya tidak ada satupun penjual di kantin, semua murid melayani diri mereka masing-masing. Kantin sekolahku memang menggunakan sistem Kantin Jujur, para murid diberikan kebebasan untuk melayani diri mereka sendiri dan lalu membayar sesuai menu yang mereka ambil. Berbagai jenis makanan dan camilan digelar di sebuah meja panjang lengkap dengan price tag masing-masing, minuman berbagai jenis tersedia dalam beberapa kotak es. Di kedua ujung meja terdapat dua buah kotak untuk para murid bisa menaruh uang bayaran mereka. Terlihat juga di beberapa sudut kantin tergantung papan-papan berisi tulisan nasehat agar para murid mau bersikap jujur. Aku menyukai sistem ini, walaupun tampak berisiko tapi sangat mendidik. Kita dilatih untuk mau bersikap jujur pada diri sendiri tanpa diawasi, dengan begitu ada kesadaran dari dalam diri kita yang tumbuh. Kami bertiga pun sibuk memilih menu yang tiap harinya selalu berganti. Darel kulihat hanya mengambil sepiring nasi goreng keju dan beberapa lauk, sekotak minuman teh lalu langsung membayar. Dia berjalan menuju meja kosong di pojok, duduk dan mulai makan. 
"Halim, udahan dong milihnya. Udah hampir penuh tuh piring kamu", aku mengomeli Halim yang belum juga selesai mengambil makanannya. 
"Aduhh, sayang Sy. Menu kan ganti-ganti terus. Aku belum nyicipin ini itu, besok gak bisa lagi dong. Mumpung ada cobain aja, kalo bisa semua. Hehe".
Halim tak menggubris omelanku dan tetap sibuk mengambil satu sendok dari tiap menu sambil mencoba menyediakan tempat bagi menu berikut di piringnya yang sudah hampir tak muat. Aku yang telah sangat laparpun meninggalkannya dan berjalan menuju meja yang telah ditempati Darel. Tampak dia sudah hampir menghabiskan makan siangnya dan tengah berhenti sebentar untuk minum. 
"Halim tuh emang paling suka lama milih menu. Tiap kali sama dia ke kantin pasti aku selesai duluan makan. Udah hafal aku", omelanku tentang Halim hanya disambut anggukan Darel. 
Aduh, pelit ngomong banget sih anak ini, pikirku.
"Enak nasi gorengnya?", aku kembali mencoba membuka percakapan.
"Enak kok", lagi lagi dia menjawab pendek.
 Mendengar respon yang serba pendek membuatku mati kutu dan akhirnya memutuskan untuk menikmati makan siangku saja dulu. Nanti saja ngobrolnya habis makan, kataku dalam hati. 
Halim datang dengan sepiring penuh makanan dan langsung mulai mencicipi tiap menu yang ada di piringnya. Sesekali dia mengangguk-angguk sambil mengunyah makanan di mulutnya tanda dia menyukai rasanya. Aku dan Darel yang telah selesai sedari tadi hanya memperhatikan dia, saling melihat lalu tertawa kecil. Gigi taringnya terlihat lagi. 
"Bagaimana rasanya, Chef Halim? Silahkan komentarnya", botol minumanku seketika berubah fungsi menjadi microphone untuk mewawancarai "Chef Halim". Halim mengunyah lebih cepat agar bisa menjawab pertanyaanku diikuti gerakan tangan yang mengisyaratkanku untuk menunggu sebentar sampai dia selesai menelan makanan di mulutnya. 
"Maknyosss....rrkkkkkkk", jawab Halim yang juga mengeluarkan suara seperti gemuruh tanda dia sudah kenyang. 
Tawa kami berduapun pecah melihat tingkah Halim. Suara tawa Darel terdengar seperti anak bayi. Dia terlihat senang dan aura gelap kesendiriannya seakan tidak pernah ada. Kami bertigapun bisa mengobrol banyak dengan lebih santai setelah tertawa bersama tadi. Kami berbicara banyak hal mulai dari Kantin Jujur, seandainya kantin gedung DPR atau DPRD atau gedung pemerintah manapun yang memiliki kantin juga memakai sistem yang sama mungkin saja bisa menumbuhkan kesadaran para coruptor-wannabe untuk tidak terus-terusan menguras uang negara, tentang akan sesukses apa pertunjukan musik tahunan sekolah kali ini, tentang orang-orang dewasa yang mencemooh tingkah laku anak-anak SD yang dengan gamblangnya beromantis-romantisan di social media tanpa sadar kalau mereka juga ikut ambil andil dalam perubahan psikologis anak-anak kecil dalam urusan cinta, anak-anak tidak punya kuasa untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan tanpa bantuan orang dewasa, artis-artis di bawah umur yang melakoni peran untuk saling menyukai di sinetron atau yang menyanyikan lagu cinta atau yang diwawancarai di acara infotainmen tentang gosip kedekatannya dengan artis beda lawan jenis lainnya tentu saja memiliki orang dewasa di sekitarnya untuk mengingatkannya bahwa dia belum cukup umur untuk memikirkan itu semua tapi sepertinya mereka hanya memikirkan bagaimana bisa mendongkrak ketenaran si artis dengan berita-berita kacangan itu dan tidak terlalu mempedulikan efek sampingnya pada anak-anak kecil lain yang menonton dan cenderung meniru. Kalau saja bel sekolah tanda waktu istirahat telah selesai tidak berbunyi, kami bertiga bisa saja menghabiskan sepanjang hari itu di kantin untuk mendiskusikan dan memperdebatkan lebih banyak hal. Darel memang tidak sependiam kelihatannya, Halim berkata benar, dia bisa jadi teman mengobrol yang lumayan menyenangkan saat kalian sudah saling mengenal. Juga dia bukan tipe yang pasif dalam obrolan dua arah, dia bahkan tidak segan berkomentar atau mendebat pendapatmu akan sesuatu. Aku senang menghabiskan break-time bersamanya dan Halim hari ini dan berharap kami bisa selalu melakukannya. 

to be continued.....


Thursday, 7 May 2015

Kamu Berubah Stu



Kamu Berubah Stu…..

            Pagi yang baru, hari ini hari pertama masuk sekolah setelah liburan sekolah selama 2 minggu. Kemarin aku baru pulang berlibur dari rumah oma. Sudah 2 tahun aku tidak pernah liburan ke rumah oma lagi sejak terakhir kalinya aku datang bersama Stuart, sahabatku sejak kecil. Kita memang bertetangga, Stuart anak Om Surya dan Tante Serly, karena seumuran kita sering main bersama. Memanjat pohon, masak-masakan, memancing, mengoleksi kupu-kupu dan juga bunga. Kita juga teman sekolah, sekelas dan sebangku dari SD sampai SMA sekarang ini, waktu SD kalau aku diganggu pasti Stuart membantu dan melindungiku, dia memang sok jagoan. Waktu kecil kita berdua sering liburan bersama, kadang aku ke rumah om-nya di Solo. Kita berdua bermain di Candi Borobudur dan selalu mencoba untuk bisa menyentuh jari patung Budha, aku meminta rumah bunga ditambah banyak kupu-kupu sementara Stuart selalu ingin menjadi Superman. Kadang kita berdua juga pergi liburan ke rumah omaku, di desa Banjarnegara, di daerah perbukitan. Kita sering jalan-jalan keliling danau di atas bukit, mengejar kelinci, mencari buah-buah hutan, sampai lupa waktu dan sering dimarahi oma. Dan waktu aku tiba di rumah oma sendirian, beliau menanyakan Stuart.
“Oma! Cucumu yang paling cantik udah nyampe nie…”, kataku sambil memeluk oma yang sudah agak rabun matanya.
“Aduh Jessy, kamu udah tambah tinggi sekarang. Yuk, masuk sayang, diluar dingin….”
“Hehehe, iya dong oma. Pasti oma kaget yah…, terakhir aku kesini khan aku masih kelas 2 SMP, sekarang khan aku udah kelas 2 SMA jadi tambah tinggi dong…..”
“Oh iya, kamu nggak bareng Stuart? Nggak biasanya kamu datang kesini sendirian, emang Stuart kemana?”
”Ahhh, nggak tau tuh si Stuart kemana. Waktu mau kesini aku ngajak dia tapi katanya dia mau pergi manjat tebing sama temen-temen cowonya. Dia nggak ngajak aku pula, katanya ini khusus buat cowo aja. Gak asik banget dia sekarang oma”
”Kenapa kamu nggak ngajak temen-temen cewe kamu kesini aja? Biar kamu nggak kesepian khan liburan sendirian?”
”Yahh...., oma kayak nggak tau aja, anak-anak cewe di sekolah elit kayak SMA Bunda Harapan gitu mana ada yang suka liburan di pedesaan kayak gini. Yang ada mereka tuh maunya ke Paris-lah, Spanyol-lah, Singapore-lah, pokoknya mau mereka tuh cuman shopping aja. Gak banget deh!”
”Kamu nggak suka?”
”Aduhh omaku tersayang, udah 16 tahun Jessy jadi cucu oma, masa oma masih nggak ngerti mau-maunya Jessy sih? Jessy tuh sukanya liburan yang penuh tantangan, petualangan, pemandangan alam, pokoknya serba alam....., gitu oma.....”
”Huhh, kamu itu emang mirip banget sama opamu itu. Sukanya manjat tebing, mendaki gunung, sampe-sampe akhirnya setelah kita nikah kita memutuskan buat tinggal di desa Banjarnegara ini karena opamu suka suasana alamnya yang ada di daerah perbukitan”
”Ahhh, oma kok jadi nostalgia gitu sih.... Ummm, Jessy udah laper nih oma......”
”Ya udah, ayo kita makan. Oma udah nyiapin sop buntut kesukaan kamu. Abis itu kamu tidur, besok pasti kamu mau pergi ke danau di atas bukit itu khan....?”
”Oma tau aja...., danau itu emang favorit aku setiap kali liburan disini oma, heheheh....”
.......................
            Teng.....teng....teng....
            ”Stuart tungguin!!”, aku mengejar Stuart yang sudah tiba di depan pagar gerbang sekolah, pagi ini dia tidak menunggu aku lagi untuk berangkat sekolah bersama. Dia berhenti dan  menengok tapi terus berjalan.
”Woi...!!”
”Aduhh, apa-apaan sih kamu, main jitak kepala orang aja?”, dia meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang sudah berhasil aku jitak.
”Habisnya, suruh nungguin malah cuek. Kenapa lagi-lagi kamu berangkat sekolah sendiri?”
”Aduh Jes..., kita tuh bukan anak SD ato SMP lagi..... Kamu bisa jalan sendiri khan? Gak usah berangkat sekolah bareng juga tujuan kita sama khan, SMA Bunda Harapan, kamu tau khan jalannya?”, jawab Stuart yang tampak kesal.
”Kamu kenapa sih Stu....., kenapa......”, aku pun tiba-tiba sadar ini awal masuk liburan, sangat tidak menyenangkan bila harus mengawali hari ini dengan keributan. Aku pun akhirnya meminta maaf.
”Yahh...., sorry Stu, cuma becanda. Ummm, btw gimana liburan kamu? Aku kemarin liburan ke rumah oma, beliau nanyain kamu gitu....”, aku pun akhirnya mengganti topik pembicaraan.
”Ohh, liburanku asik kok….”, jawab Stuart asal-asalan.
“Kamu tau gak Stu, kelinci di sekitar danau di atas bukit itu sekarang udah tambah banyak….., lucu-lucu banget….. Sejak terakhir kali kita pergi bareng kesana kayaknya nambah 10 ekor deh….., aku pengen ngasih mereka nama tapi susah soalnya mirip semua sih kelincinya…., heheheheh”
“Oh gitu, eh Jes…., aku duluan ke kelas yah….., see ya....” , kata Stuart sambil berlari kecil menuju kelas.
“Kenapa sih tuh anak, sejak naik ke kelas 2 dia selalu menghindariku, diajak jalan gak mau, diajak ngerjain PR bareng dibilang gak usah, aku ke rumahnya selalu sok sibuk. Apa dia udah punya cewe kali yah? And dia gak mau aku tau…..”, pikirku dalam hati.
…………………..
            Seharian ini di sekolah aku habiskan untuk mencari informasi dari teman-teman soal pacarnya (mungkin…) Stuart. Aku pun memutuskan untuk bertanya pada Cybil, dia terkenal paling suka menyebarkan gosip, pastinya dia akan tahu kalau ada gosip tentang Stuart.
“Eh Cy, bisa ngobrol bentar nggak?”, tanyaku saat Cybil sedang menikmati jus jeruknya di kantin sekolah bersama Nina dan Maya.
“Boleh, kenapa emangnya?”, jawab Cybil serius.
“Tapi nggak disini…, ikut aku bentar mau nggak?”, balasku membuat Cybil penasaran dan langsung bangun dari kursinya.
“Gals, aku minjem Cybil bentar yah….”, Nina dan Maya pun cuman tersenyum.
“Kenapa nie Jes, ada gosip yah yang mau kamu kasi tau…..?”, tanya Cybil antusias.
“Nggak, justru aku mau minta informasi sama kamu. Kira-kira kamu tau nggak si Stuart cewenya siapa?”, aku pun tidak kalah antusias bertanya pada Cybil.
“Ohh…., bisa. Kalau cewenya Stuart sih aku gak tau persis tapi cewe-cewe yang naksir Stuart mah banyak, ada Tita, Delshy, Ria, Belda, Justin, Selvia, Aysah, Saori, Rara, trus….”
“Waduh, kok banyak banget? Mereka pada katarak yah sampe mereka bisa naksir sama si Stuart?”, tanyaku keheranan.
“Aduh Jes, kamu udah bertahun-tahun sahabatan sama si Stuart kok kamu nggak bisa ngeliat aura ketampanannya dia sih? Di sekolah ini banyak kali yang naksir sama si Stuart, tapi aku belum pernah ngedengar kabar Stuart macarin salah satu diantara cewe-cewe itu, sumpah dia cool abis……”, terang Cybil sambil terus memutar ujung rambutnya yang dikepang ke samping.
“Ohh…, yah udah. Makasih yah Cy buat infonya….., bye....”, aku pun beranjak kembali ke kelas untuk mencari Stuart. Sesampainya di pintu kelas aku kaget melihat Rara anak XI IPA 2 menyodorkan selembar kertas undangan pada Stuart.
“Mmmm, Stuart, hari Jumat nanti datang yah ke birthday party-ku. Cuman kamu anak kelas bahasa yang diundang, jadi datang yah……, aku tunggu…..”, ujar Rara yang sudah salah tingkah di depan Stuart.
“Ohh gitu…., yah udah. Nanti aku usahain…..”, Stuart langsung menyimpan undangan itu dalam tasnya sambil tersenyum manis.
………………….
            Siang ini seperti biasa Jakarta selalu panas dan macet, ubun-ubun kepalaku rasanya akan meleleh. Waktu bel pulang sekolah tadi aku mau mengajak Stuart pulang bersama tapi dia seakan sudah mengetahui niatku dan langsung beranjak pergi. Aku berusaha untuk menyusulnya tapi dia sudah tidak terkejar lagi, akhirnya aku jalan sendirian menuju halte bus. Selama menunggu bus di halte aku merasa seperti ada orang yang terus memperhatikanku, tapi karena ada banyak orang di halte jadi aku tidak terlalu ambil pusing. Setelah 30 menit menunggu akhirnya ada juga bus yang belum penuh, saat aku hendak menaiki bus tiba-tiba tasku dijambret. Aku sangat terkejut dan akhirnya hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya.
“J A M B R E T !!!!!!!!”
Orang di sekitar tempat itu akhirnya sadar ada yang membutuhkan pertolongan, dengan sigap mereka beranjak dari kegiatan mereka masing-masing dan mencoba menolong. Mereka beramai-ramai mengejar penjambret itu, aku pun ikut lari mengejar. Aku pernah jadi atlit lari saat masih SMP, jadi berlari bukan hal sulit bagiku. Akhirnya penjambret itu berhasil ditangkap, oleh massa dia hendak diadili tapi polisi datang dan mengamankannya. Tragedi siang itu benar-benar membuatku lebih kesal pada Stuart, kalau saja dia ada dan menemaniku pulang sekolah kejadian itu pasti tidak terjadi. Aku hanya bisa memendam rasa kesal dalam hati. Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dan beristirahat, tapi aku masih memikirkan kejadian di kelas tadi.
“Kenapa Stuart nerima undangan dari Rara? Emang dia nggak inget yah Jumat nanti khan aku juga ulang tahun, seharusnya khan dia ingat tiap kali aku ulang tahun aku selalu nunggu kado dari dia di taman belakang rumah. Ato mungkin dia cuman gak enak hati sama Rara aja makanya dia nerima undangan itu, aku yakin kok Stuart pasti inget ulang tahunku, dan dia pasti datang dan ngasih aku kado nanti. Tapi tahun lalu Stuart nggak kasi aku kado, mungkin karena waktu itu dia khan lagi khawatir sama mamanya yang lagi sakit, tapi dia nggak minta maaf sama aku waktu itu. Ahh.., udahlah Jes, kamu itu harus percaya sama sahabat kamu. Stuart pasti datang, pasti...!!!”, begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku, tapi akhirnya aku memutuskan untuk yakin dan percaya pada Stuart, sahabatku.
................................
            Perasaan seseorang di hari ulang tahunnya itu memang selalu berbeda, senang sekali..... Karena pada hari itu dia yakin akan ada banyak orang yang menunjukan rasa sayang mereka padanya, seperti aku hari ini..... Hari ini yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kado padaku pastinya mama dan papa, selanjutnya ada Tyas, adikku, oma, om Surya dan tante Serly, teman-teman sekelas, gebetan-gebetan, dan........., hanya itu. Aku menunggu ucapan selamat dari Stuart, tapi sudah sampai sore dia belum juga terlihat.
”Mungkin dia lagi nyiapin kado buat aku nanti malam...”, pikirku.
Malam itu aku menunggu Stuart di taman belakang rumah, dari kecil memang dia selalu jadi orang terakhir yang memberi aku ucapan selamat ulang tahun dan kado, dan aku selalu menunggu dia di taman belakang rumah. Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, Stuart tidak kunjung datang. Aku tetap keukeuh menunggunya, walau mama dan papa sudah menyuruh aku masuk karena banyak nyamuk tapi aku malah membawa selimut dari kamar dan tetap menunggu Stuart hingga.........,
”Jes, bangun sayang udah pagi nie.....”, suara mama membangunkanku yang tertidur di kursi taman.
”Hah?!? Udah pagi ma?”, aku yang setengah terkejut akhirnya sadar penantianku semalaman tidak membuahkan hasil, Stuart tidak datang.
............................
            Aku yang semalaman menunggu Stuart di taman akhirnya jatuh sakit, dokter bilang aku terjangkit demam berdarah. Aku pun harus istirahat di rumah karena demam tinggi selama 3 hari, tubuhku lemas. Teman-teman sekelas datang untuk menjenguk tapi aku tidak menemukan sosok Stuart diantara mereka, bahkan om Surya dan tante Serly datang tapi tidak bersama Stuart, mereka menyampaikan kalau Stuart masih sibuk tapi Stuart pasti datang menjenguk aku nanti. Aku sangat kecewa padanya, rasa-rasanya aku bahkan sudah mulai membencinya dan tidak mengharapkan kedatangan dia lagi. Hampir seminggu berlalu hingga akhirnya sosok Stuart muncul, waktu itu aku sedang duduk di tempat tidur sambil menikmati coklat pemberian teman-teman, tapi aku sudah terlanjur marah padanya.
”Jes aku mau minta.....”
”Udah Stu, udah..... Kamu berubah Stu, kamu bukan Stuart sahabatku yang dulu lagi. Kamu gak pernah mau jalan bareng lagi, gak mau ngerjain PR bareng, gak pernah mau berangkat bareng ke sekolah lagi, gak mau liburan bareng lagi. Aku pernah dijambret tau gak? Aku juga sakit karena nungguin kado ulang tahun dari kamu semalaman di taman belakang? ”Pasti kamu ke birthday party-nya Rara” gitu aku mikir. Mana Stuart yang selalu ngejagain aku? Mana Stuart yang selalu setia ngedenger cerita-cerita konyol aku? Mana Stuart yang selalu ngabisin liburan bareng aku? Mana Stuart yang selalu datang setiap malam dan bawain aku kado ultah di taman belakang? Mana Stu? Mana?”, kataku setengah berteriak, aku cuma bisa menangis, tapi rasanya menangis saja tidak cukup untuk menunjukan betapa sakitnya hatiku. Saat itu tiba-tiba saja aku sudah ada dalam pelukan Stuart.
”Maafin aku Jes, aku udah bikin kamu bingung dan benci padaku. Aku emang berubah Jes, aku sadar itu. Dan aku bener- bener minta maaf. Maaf karena aku nggak ada saat kamu lagi susah. Maaf karena aku nggak lagi mau ngedengerin cerita-cerita kamu. Maaf karena aku nggak pernah lagi ngabisin liburan bareng kamu. Maaf karena 2 tahun terakhir ini aku nggak pernah nemuin kamu lagi di taman belakang dan ngasih kamu kado ultah. Maaf karena aku udah bikin kamu sakit dan nangis kayak gini. Tapi, aku punya alasan tersendiri Jes. Soal kado ulang tahun kamu, aku cuman nggak tau apa yang cewe SMA suka, aku nggak tau apa kamu bakal suka kado dari aku ato nggak. Karena kado yang mau aku kasi ke kamu bukan lagi kado dari seorang sahabat tapi kado dari seorang cowo yang suka sama seorang cewe. Aku sayang sama kamu Jes, sayang banget, tapi rasa sayang aku sekarang beda Jes.”
”Bodoh...., kamu emang tetep bodoh yah kayak dulu....”, aku melepaskan pelukan Stuart dan menjitak kepalanya.
”Auch....., maksud kamu?”, tanya Stuart.
“Kenapa kamu harus nunggu sampe 2 tahun sih? Kenapa kamu harus nunggu aku jatuh sakit dulu, Stuart bodoh? Kalau aja kamu ngomong dari dulu mungkin aku nggak perlu nangis sekarang. Aku juga sayang sama kamu Stuart, sayang banget, tapi kali ini aku pengen kamu ganti status jadi pacarku, Stuart bodoh......”
THE END





Thursday, 21 August 2014

More Than Words


More Than Words

Kringgg………
Jam beker imut bentuk Mickey Mouse gue ngelakuin tugasnya dengan baik, tepat jam setengah 3 sore dia udah teriak-teriak secempreng mungkin buat ngebangunin gue. Yup! Hari ini gue ada janji sama Andra, cowo yang baru gue kenal 2 hari lalu di pesta ulang tahunnya Icha, my bestfriend. Emang dia sie yang ngajak gue kenalan, katanya dia temennya Jo, sepupu Icha, cakep juga. Malamnya dia ngajak sms-an :
“Malam Al, gie ngapain? Nie Andra, yg td kenalan di birthday party-nya Icha. Masih inget khan?”
“Oh Andra, masih inget kok. Kenapa?”
”Gak, gue kepikiran aja gue td lupa nanya lo udah punya cwo pa blom?”
”Busyet! Blak-blakan banget ne cowo, belum juga seminggu kita kenalan”
”Oh, blom kok. Gie single ne, emang kenapa? Lo mau nyomblangin gue ma temen lo yah?”
”Gak juga, bsok lo sbuk gak? Jalan yuk?”
What? Dia ngajak gue jalan? Ummm, it’s ok lah. Itung-itung biar besok gue gak suntuk sendirian di rumah”
”Ummm, boleh deh. Where? What time?”
”Lo tau Sweet Candy cafe khan? Besok jam 4 sore gue  tunggu lo  disana. Gimana?”
“Tau. Ok deh, besok jam 4 sore di Sweet Candy café. Gue udah ngantuk ne. See ya”
“Ok, sweet dream yah”
…………..
Setiap kali punya janji sama seseorang apalagi cowo, gue selalu bangun tidur satu setengah jam sebelum jam janjian, soalnya sejam itu waktu maksimal yang gue butuhin buat dandan. Biarpun cuman janjian buat kerja tugas kelompok di rumah temen tetep dong gue harus tampil oke, siapa tau sodaranya temen gue ada yang keren. So, persiapan itu emang tetep diperluin. Mini dress lemon colored, fringe boots warna olive green, ethnic necklace warna item, cute wallet warna biru, sweet vanilla perfume, makeup sana-sini dan terakhir bando imut yang jadi mahkota buat rambut panjang gue yang tergerai indah (so sweet....).
”Ma, Alice pergi dulu yah..... Ada janji sama temen nie”
”Iya, jam berapa pulang?”
”Ummmm, tergantung sie Ma....”
”Udah-udah, mama ngerti.... Time limit-nya sampe jam 8 yah, don’t be late! Inget jaga diri, cowo jaman sekarang jangan gampang percaya!”
“Ah mama...., siapa bilang aku pergi sama cowo?”
”Alice my dear, come on! You can’t lie to me, because you are my only daughter”
“Hehe, mama tau aja. You’re the best mom! Love you, mmuuach….. Bye, see you on 8
Gue yang blasteran Australia-Betawi emang anak semata wayang, mama gue orang Australia ketemu papa pas sama-sama ngikutin Science Competition di Tokyo, Jepang. Emang udah jodoh dari sananya kali yah, biarpun long distance relationship selama kurang lebih 6 bulan, papa yang akhirnya berhasil dapat scholarship di Australia bisa ngejalanin short distance relationship deh sama mama. Setelah jadi sarjana papa langsung ngambil alih perusahaan keluarga, nikahin mama, dan ngeboyong mama ke Jakarta, 9 bulan kemudian lahirlah gue, Alice Prasetya (tadaaa….!!!).
……………..
Thanks God, Jakarta sore ini gak macet-macet amat so jam 4 teng akhirnya Honda Jazz pink colored gue berhasil diparkir di parkiran Sweet Candy café dengan selamat. Tempatnya cozy, warna merah bata mendominasi café ini dengan banyak wall ornaments yang keren, di ujung bagian dalam café akhirnya gue nemu sosok si Andra yang udah nyambut gue duluan dengan senyumnya (yang kalo boleh dibilang manis abis…).
“Hai Andra, pa kabar?”
“Baik, kamu ndiri? Gak nyasar khan?”
What? No way, gue juga sering kesini kali sama si Icha, jadi gak mungkinlah gue nyasar. Kecuali kalo gue ngidap Alzheimer baru mungkin gue nyasar”
“Hahaha, lo lucu juga Al. Btw, mau pesan apa nie?”
”Aku pesan choco mocca ice cream-nya satu sama hot sandwich crunchy saos chocolatenya satu. Lo?”
”Sama deh”
”Ahh, gak kreatif. Kenapa ngikutin pesanan gue?”
”Gak papa khan, pengin tau aja rasa makanan kesukaan lo. Emang gak boleh?”
”Yieh..., garing”
”Hehehe....”
Andra keliatannya tipe cowo yang asik buat diajak seru-seruan, pas gue lagi serius nikmatin sandwich gue dia malah nyolekin ice cream ke hidung gue, sumpah usil banget. Jadi deh kita main colek-colekan ice cream, sampe diperhatiin orang se-café malah ada yang diam-diam ngetawain kita, gue sih cuek aja.
”Ummm..., Al. Ada yang mau gue omongin ke lo”
“Apa? Ngomong aja kali, gak usah pake nanya segala”
”Bener yah gue langsung ngomong aja?”
”Iya, kenapa sie lo? Aneh gitu, ngomong udah”
I love you
”Apa?”
I love you, Al”
”What? Andra, we just knew each other two days ago. And now you said that you love me. How come?”
“It’s not about the time, it’s about the feeling. Gue suka ma loe sejak pertama kali gue ngeliat loe di party-nya Icha
Andra, buat gue kata I love you  itu gak sekedar kata, it’s more than just a words. Dan buat gue mustahil buat dua orang cowo cewe falling in love each other just in one night pas pertama kali ketemu. Itu semua butuh proses, buat numbuhin cinta yang bener-bener tulus. Love at first sight buat gue nonsense, yang ada tuh cuman bagian luarnya aja yang diperhatiin, padahal belum bener-bener kenal eh langsung bilang I love you. Mending kita tuh saling kenal dulu, kalo cocok baru gue bakal nerima loe jadi cowo gue, gimana?”
 “Yah, apa boleh buat. Anything for you deh Alice from the wonderland
………….
            Teng….., teng…., teng……,
            Lonceng SMA Putra Putri Bangsa berbunyi tepat pukul 7 pagi, para murid bergegas berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti apel pagi.
“Selamat pagi murid-murid sekalian, pagi ini bapak ingin menyampaikan pengumuman,  berhubung murid-murid kelas 3 akan mengikuti ujian nasional minggu depan, maka murid-murid kelas 1 dan 2 diliburkan selama seminggu. Selamat berlibur!”
“Udah Al, ntar liburan nanti lo ikut gue aja ke villa gue di Bogor. Pemandangannya bagus banget, ada danau, hutan kecil, taman penuh bunga liar, peternakan kelinci, pokoknya dijamin keren deh…..”
“Serius lo? Mau banget gue kalo gitu. Ntar gue minta ijin dulu ama mama”
“Sip! Gue juga ngajak sepupu gue, si Jo. Gak papa khan? Biar ada cowo yang nemenin kita pas jalan-jalan, sekalian jadi bodyguard gitu deh...”
”Boleh dong...”
”Ummmmm, btw, gimana si Andra? Lo masih sering jalan bareng dia? Tapi belum jadian khan lo berdua?”
”Yah belum lah..., gue pasti ngasi tau lo kali kalo gue jadian ama dia. Sejak 2 bulan yang lalu ditolak ama gue itu dia tetep ngedeketin gue. Kemarin waktu kita jalan bareng ke Ancol gue jatuh dan kaki gue keseleo, dia keliatan panik banget. Trus dia ngegendong gue dari tempat gue jatuh yang jaraknya sekitar 50 meteran ke tempat parkir mobilnya. Sumpah, gue tersanjung banget. Orang-orang pada ngeliatin, dia cuek aja. Dia nganterin gue sampe rumah, dia mohon maaf banget sama mama karena katanya gak bisa ngejaga gue dengan baik, lucu banget yah....”
”Cie..., kayaknya ada yang mulai suka nie sama si Andra. Udah Al, lo terima aja dia jadi cowo lo. Dia emang anaknya baik kok, dia sering ke rumah gue sama si Jo, tiap kali datang dia bawain gue coklat sekotak, padahal sepupu gue si Jo gak pernah tuh....”
”Itu khan emang kesukaan lo kali....”
”Bukan itu aja, dia juga sering curhat ke gue, secara dia tau lo itu bestfriend gue. Dia bilang dia suka banget ama lo, dia juga sering minta saran ke gue buat ngedeketin lo”
”Oh...., berarti dia emang sengaja bawain lo coklat biar lo mau buka mulut soal gue”
”Biarin, yang penting coklatnya enak”
”Dasar!”
.................
”Wahhh...., keren banget Cha pemandangannya! Sumpah, villa lo emang paling ok deh. Yuk Cha kita langsung beres-beres trus kita langsung ke danau”
”Ummm, Al kayaknya gue gak bisa nemenin lo ke danau deh. Masih mabuk perjalanan nie gue, Jo juga kayaknya demam. Lo pergi sendiri aja deh, keliatan khan jalan kesana, lo pasti bisa sendiri, sorry yah....”
”Payah, yah udah gue pergi sendiri aja”
.....................
Danau itu dikenal dengan nama danau Heaven sama penduduk sekitar karena memang danau itu membuat orang bisa membayangkan indahnya surga, airnya yang bening bak kaca membuatku tenang. Di sekitar danau tumbuh pohon-pohon hijau yang membuat suasana menjadi sejuk. Aku hanya bisa duduk di pinggir danau dan menikmati karya Tuhan ini.
”Indah banget yah danaunya Al.....”
”Andra? Kok?”
”Hai, gue emang sengaja kesini, gue udah ngomong sama Icha sebelumnya tapi gue gak mau loe tau. Gue cuman mau bilang……, I love you Al…, and for this time it’s not just the words, it’s more than words, it’s my whole feeling about you. Would  you like to be my girlfriend Alice?”,  kata Andra sambil megang tangan gue lembut.
 “Ummmm, gue tau kok Andra, it’s more than words now, I can  feel it too. Loe udah nunjukin kalo loe emang bener-bener sayang ama gue dan bukan cuman rasa sesaat yang bakal hilang dengan cepat. I love you too  Andra……”
THE END

Karya pertamaku yang masuk ke majalah Gadis, terinspirasi dari kisah nyata tapi sebagian besar hasil imajinasi belaka. Majalah Gadis yang memuat karya pertamaku ini edisi tahun 2010, aku baru tahu kalau dimuat di majalah tahun 2013, hingga kini masih belum punya majalahnya, walaupun tidak dibayar yang penting bisa lihat hasil karyaku dimuat di majalah sudah akan sangat memuaskan.