Do you remember the day when I got first rank in my class and you came to take my school report? You bought me sweets and small presents. I was so happy and proud of myself. I like it when you and mom would go to parties and you also tried to dress up nicely. You always look good dad. Thanks for the time you spent with me to finish my homework at your office even till very late. I am grateful that you always came and picked me up at the Internet cafe without complaining even though it was midnight. I thank you that you kept trying to advise us no matter how stubborn we were. Thanks for the delicious dishes you made for us when you had the time, you are a good cook (better than mom, sorry mom, I still love you). Thanks for all the beautiful songs you made, I love all of them, even though Nori is your best fan. Thanks for always playing the Sasando beautifully, the best lullaby ever. Thanks for riding me to anywhere I needed to go and coming back to pick me up again, you are the best rider ever, I always felt safe if it was you who rode me everywhere. Thanks for buying me the cream for my face as you realized how careless I was about my own face problem, even you suggested me to go to the beauty expert, that was sweet dad. Thanks for teaching me how to ride motorbike, it was the first and the last but Im grateful I had that moment with you. Thanks for all the good food you always tried to provide for us at home, I loved the snake-fruit you brought home and it was a lot of them, you diligently cleaned them and served us after. Thanks for teaching me to be a good poem-reader that I might be able to win all those trophies at home. Thanks for letting me performed all your great plays, I loved working with you dad, you are sooooo talented. Thanks for keep believing in me thou I betrayed your trust. I realize how hard you try to be the best father for all of us. You sometimes act hard but it's just because you love us sooo much. I never told you this so I want to tell you now. You are the best dad. Dont try so hard because we, I, love you the way you are. With all your silliness and craziness, we cant ask for anyone else to be our dad. You are so talented and I always admire your talent. Nori may be your best fan, but Im your best admirer. Im soooo grateful that you are my dad. Stay amazing dad. Thanks for being my dad. I cant thank you enough. I love you dad.
Tuesday, 5 May 2015
Sunday, 3 May 2015
Dearest
Dear mom,
I remember the day when you held my left hand and walked along my side on my first day to school. Wish I could tell you how I loved that moment. I was disappointed that I should went to school on my own for the next days. Wish you could hold my hand again with such love. Im grown up now and been so strong that makes it so hard for me to feel loved or to love. I dont blame you because I know you were raised the same way. Must be hard for you also. Im sorry mom that I failed you. Life is hard and I only make it harder for you. Im sorry.
Saturday, 2 May 2015
Ini untuk kamu
Tidak sulit membuat mereka tersenyum karena ditengah hidup mereka yang lebih tidak beruntung dibanding hidup kita mereka akan sangat menghargai kebaikan orang lain sekecil apapun itu. Aku tidak bisa membayangkan kesulitan apa saja yang mesti mereka lalui setiap harinya, hingga suatu hari saat aku mengunjungi rumah salah satu dari mereka aku mendapati sepiring nasi yang dicampur dengan minyak bekas menggoreng ikan yang sedang disuapkan bagi mereka sebagai makan siang. Orang tua mereka tidak sanggup bahkan membeli sebutir telur atau seikat sayur dan memasakkannya untuk mereka. Ini memang bukan kehidupan yang harus mereka jalani sehari-hari, Tuhan pasti pernah memberkati mereka dengan makanan yang lebih layak. Hanya saja aku merasa begitu sedih melihat keadaan mereka saat itu. Meskipun demikian mereka tetap lahap menerima suapan ibu mereka. Itulah hebatnya anak-anak, mereka selalu punya hati yang mau tulus bersyukur atas apapun yang mereka terima karena mereka tahu mereka tidak bisa memperolehnya sendiri, mesti ada yang membantu mereka sehingga saat mereka dibantu mereka akan sangat bersyukur. Mereka akan dengan bahagia menerima bantuan dari seseorang. Yesus bahkan kagum dengan anak-anak dan beberapa kali menjadikan mereka contoh bagi orang dewasa. Sama halnya dengan kasih karunia. Kita tahu kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri dari hukuman atas dosa kita, orang mengatakan perbanyaklah berbuat baik agar bisa masuk ke surga. Tapi apakah ada jaminan pasti perbuatan baik kita sudah cukup baik agar kita bisa masuk ke surga, apakah ukuran perbuatan baik kita sama dengan ukuran perbuatan baik yang Tuhan miliki, tentu saja tidak. Ukuran manusia tentu saja beda dengan ukuran Tuhan, oleh karena itu perbuatan baik kita tidak bisa menyelamatkan kita jika kita mesti melakukannya sesuai ukuran Tuhan. Dan lagipula tidak ada jaminan bila perbuatan baik kita sudah cukup banyak, kita tidak pernah bisa menghitungnya dan membandingkannya dengan perbuatan jahat kita. Itulah kenapa kita butuh pertolongan Tuhan yaitu kasih karunia melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Tuhan tahu kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sehingga Dia datang untuk menolong kita. Pertolongan Tuhan ini adalah bagi semua orang, tidak peduli siapapun kamu, apapun latar belakangmu itu tidak penting. Yang penting adalah apakah kamu mau menerima pertolongan Tuhan ini sebagaimana anak kecil yang sadar dia tidak bisa membantu dirinya sendiri dan butuh uluran tangan orang lain? Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan kamu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dia, yang adalah Yesus, adalah bukti nyata betapa Tuhan mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya hingga bahkan rela mati untuk menebus dosa-dosa kita. Jadilah seperti anak kecil dan terimalah pertolongan Tuhan itu. Kamu, iya kamu. Kamu membutuhkannya.
Terjemahan Tafsiran David Guzik dari Roma 13
Roma 13 –
Kepatuhan orang Kristen kepada Pemerintah
Orang Kristen dan
pemerintah
1. (1-2) Kewenangan
sah pemerintah dan reaksi orang Kristen
Tiap-tiap
orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada
pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada,
ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan
ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas
dirinya.
a.Takluk kepada pemerintah: adalah jelas hubungan
antara Roma 12 dan Roma 13. Bahwa jika seorang Kristen tidak
boleh menuntut pembalasan, hal ini tidak berpengaruh pada kewenangan pemerintah
untuk menghukum orang-orang yang bersalah.
b. Tiap-tiap
orang tentunya termasuk orang-orang Kristen: sederhananya Paulus berkata
bahwa kita harus takluk kepada kewenangan pemerintah. Keadaan ini berbeda
dengan kelompok-kelompok Yahudi fanatik pada saat itu yang tidak mengenal raja
selain Allah dan tidak membayar pajak kepada siapapun selain kepada Allah.
c. Sebab
tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah
yang ada, ditetapkan oleh Allah: kita menundukkan diri kita kepada pemegang
wewenang yang ada karena mereka ditetapkan oleh Allah dan menjalankan rencana-Nya.
i. Tidak
ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah: Allah menetapkan
pemimpin-pemimpin bangsa, tapi tidak selalu untuk memberkati orang-orang. Terkadang Allah melakukannya untuk
menghakimi orang-orang atau untuk menyiapkan bangsa tersebut bagi penghakiman.
ii. Kita ingat bahwa Paulus menulis pasal ini
selama masa pemerintahan Kerajaan Roma. Tidak ada demokrasi, dan perlakuan
istimewa terhadap orang-orang Kristen – meskipun demikian dia tetap melihat
kewenangan mereka adalah sah.
iii. “Ingatlah Juru Selamat-mu menderita di bawah
pemerintahan Pontius Pilatus, satu dari gubernur Roma terburuk yang pernah memerintah
Yudea; dan Paulus di bawah pemerintahan Nero, Kaisar Roma yang terburuk. Dan
tidak Tuhan kita maupun pengikut-Nya yang menyangkal atau mencerca ‘kewenangan!’ mereka”(Newell)
d. Sebab
itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah: karena
pemerintah memiliki kewenangan dari Allah, kita diharuskan untuk mematuhi
mereka- kecuali, tentu saja,jika mereka memerintahkan kita untuk melakukan
sesuatu yang berlawanan dengan hukum Allah. Jadi, kita diperintahkan untuk
tunduk lebih dulu kepada Allah daripada manusia (Kis. 4:19)
e. Dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya: Allah menggunakan kewenangan pemerintah sebagai kendali atas
keinginan dan kecenderungan manusia untuk berbuat dosa. Pemerintah bisa menjadi
alat yang efektif dalam menentang efek dari kejatuhan manusia ke dalam dosa.
2. (3-4) Tugas pemerintah: menghukum dan mencegah
orang jahat.
Sebab jika
seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia
berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah
apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah
adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah
akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah
hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
a. Perbuatlah
apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian: maksud Paulus adalah bahwa
orang-orang Kristen haruslah menjadi warga negara terbaik diantara yang lain.
Walaupun mereka lebih dahulu setia kepada Allah daripada kepada negara
orang-orang Kristen adalah warga negara yang baik karena mereka jujur, tidak
mendatangkan masalah kepada negara, membayar pajak mereka, dan -yang
terpenting-mendoakan negara dan penguasanya.
b. Pemerintah
adalah hamba Allah: Paulus menggambarkan pejabat-pejabat pemerintah sebagai
hamba Allah. Mereka memiliki tugas
pelayanan dalam rencana dan pengadaan oleh Allah, sama banyaknya dengan tugas
pemimpin-pemimpin gereja.
i. Jika kepala-kepala negara adalah hamba Allah (pelayan), mereka
seharusnya ingat bahwa mereka hanyalah pelayan,
dan bukan tuan atas diri mereka sendiri.
c. Untuk
membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat: dengan hukuman yang
adil atas kejahatan benarlah bahwa pemerintah melaksanakan tugasnya dalam
rencana Allah untuk mengendalikan kecenderungan manusia berbuat dosa. Ketika
pemerintah terus-menerus gagal melaksanakan tugas mereka ini, penghakiman dan
perbaikan oleh Allah akan terjadi dengan sendirinya.
d. Karena tidak
percuma pemerintah menyandang pedang:
Pedang merujuk pada undang-undang. Pada
masa Kekaisaran Roma, penjahat biasanya dieksekusi dengan cara dipenggal
menggunakan pedang (penyaliban
ditujukan untuk penjahat-penjahat terburuk dari golongan-golongan paling
rendah). Paulus, berkata-kata dengan tuntunan Roh Kudus, tidak ragu kalau
negara memiliki kewenangan sah untuk mengeksekusi penjahat-penjahat.
3. (5-7) Tanggung jawab orang Kristen terhadap
pemerintah.
Sebab itu
perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi
juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar
pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah
kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak
menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut
kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang
berhak menerima hormat.
a. Sebab
itu perlu kita menaklukkan diri: kita harus takluk kepada pemerintah, bukan
hanya karena kita takut akan hukuman, tapi karena kita tahu bahwa itulah yang benar
dihadapan Allah.
i. Oleh
karena suara hati kita: ketaatan kepada negara secara Kristen tidak pernah
menutup mata - dia taat dengan mata nurani yang terbuka lebar.
b. Kamu
membayar pajak…….Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: kita
juga membayar pajak yang memang sudah seharusnya
dibayar, karena masuk akal apabila kita membayar pajak berarti kita mendukung pekerjaan Allah.
i. Dengan sebuah maksud, Roma 13:6 juga
menyatakan bahwa pajak dikumpulkan untuk digunakan oleh pemerintah guna
menyelesaikan pengendalian atas kejahatan dan pengamanan rakyat secara tertib -
bukan untuk memperkaya pejabat-pejabat pemerintah itu sendiri.
c. Pajak…cukai…rasa
takut…hormat: Negara berhak atas pajak yang kita berikan, rasa hormat, dan
penghormatan yang pantas, sementara dari semuanya kita menyediakan hak Allah yang wajib kita berikan
bagi Allah sendiri. (Mat.22:21)
d. Dalam pertimbangan ini, apakah pemberontakan
terhadap pemerintah dibenarkan? Jika rakyat memiliki pilihan di antara dua
pemerintahan, memilih dan mendukung salah satu yang paling berhak di mata Allah
adalah benar – salah satu yang mana akan
paling baik memenuhi tujuan Allah dalam pemerintahan.
i. Sama halnya, dalam pemerintahan demokrasi, kita
harus mengerti bahwa terdapat hal dimana kita adalah pemerintah, dan seharusnya kita tidak ragu “mengatur” pemerintahan demokrasi
dengan turut berpartisipasi dalam proses demokratis.
B. Kewajiban orang Kristen kepada sesamanya
1. (8-10) Kewajiban untuk mengasihi
Janganlah
kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling
mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi
hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri,
jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman
ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak
berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum
Taurat.
a. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah
kamu saling mengasihi: pada tingkatan perorangan,
satu-satunya “hutang” yang kita tanggung adalah “hutang” untuk mengasihi sesama
– ini adalah kewajiban kita kepada Allah dan sesama kita yang bersifat kekal.
i. Beberapa mengartikan hal ini sebagai perintah
untuk jangan pernah meminjam apapun, tapi Yesus mengijinkan hal pinjam-meminjam
seperti tersebut dalam Mat. 5:42. Hal tersebut bukanlah apa yang dimaksud
Paulus disini, Injil telah lebih dulu mengingatkan kita tentang bahaya dan
kewajiban-kewajiban dalam hal pinjam-meminjam (Amsal 22:7)
ii. “Kita boleh saja membayar pajak dan berhenti.
Kita boleh saja patuh dan hormat dimana memang sudah seharusnya dan tidak
memiliki kewajiban yang lebih lagi. Tapi kita tidak akan pernah bisa berkata,
‘Saya telah menyelesaikan semua kewajiban mengasihi yang harus saya lakukan.’
Jadi mengasihi adalah kewajiban yang permanen, hutang yang mustahil untuk
dilunasi.” (Morris)
b. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri: Paulus mengutip kata-kata Yesus seperti yang tertulis pada Matius
22:36-40. Ini adalah salah satu dari dua hukum yang mengaitkan semua Hukum dan Nubuatan.
i. Kasihilah
sesamamu berarti mengasihi orang yang saudara benar-benar temui dan hadapi
setiap hari. Mudah bagi kita untuk mengasihi secara teori dan abstrak, tapi
tuntutan Allah adalah bahwa kita harus mengasihi sesama kita secara nyata.
ii. “Tidak ada seorangpun mampu menjangkau akhir
dari hidup ini dengan menggambar garis kecil di sekitar dirinya sendiri di atas
tanah. Tidak seorangpun mampu memenuhi panggilannya sebagai seorang Kristen
dengan mencari keselamatan hanya untuk istri dan keluarganya saja, karena ini
hanyalah sebagian kecil saja.” (Spurgeon)
c. Kasih adalah
kegenapan hukum Taurat: Mudah untuk mengerjakan semua “hal-hal” religius
yang benar kecuali menyia-nyiakan kasih. Kasih kita adalah langkah nyata dari ketaatan
kita kepada Allah.
2. (11-14) Pentingnya mengasihi dan berjalan
bersama Allah
Hal ini
harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa
saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang
keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari
sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan
perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah
kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan
kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan
dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan
senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.
a. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang: Karena tahulah kita akan bahaya dari waktu dan kita mengantisipasi
kedatangan Yesus yang sudah dekat, kita seharusnya menjadi lebih semangat dan
benar-benar berjalan bersama Allah, bukannya tidur berjalan.
i. Betapa pentingnya untuk bangun dari tidur! Kita bisa melakukan banyak hal-hal Kekristenan dan paling penting tidur
di dalam Allah. Perbedaan apa yang akan terjadi ketika kita sadar!
Kita bisa bicara ketika kita sadar
Kita bisa mendengar ketika kita sadar
Kita bisa berjalan ketika kita sadar
Kita bisa bernyanyi ketika kita sadar
Kita bisa berpikir ketika kita sadar
b. Menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan
senjata terang: Gambarannya sama seperti
menanggalkan dan mengenakan pakaian. Ketika saudara berpakaian setiap hari,
saudara berpakaian semestinya saudara dan apa yang saudara ingin lakukan. Oleh
karena itu, kenakanlah Tuhan Yesus
Kristus!
i. Kita harus menanggalkan
sebelum kita bisa mengenakan. “Baju
usang dosa harus dilepaskan jika kita ingin mengenakan jubah Kristus. Dosa
harus disingkirkan oleh kasih, perbuatan dan kebiasaan yang lama harus
ditinggalkan, jika tidak seseorang tidak bisa menjadi Kristen. Akan menjadi
usaha yang sia-sia untuk mencoba dan menggunakan agama sebagai gambaran dari
keseluruhan hal sorgawi diatas puncak dosa-dosa lama.” (Spurgeon)
c. Perbuatan-perbuatan kegelapan digolongkan atas
pesta pora dan kemabukan, percabulan dan hawa nafsu, perselisihan dan iri hati. Hal-hal
tersebut tabu bagi seorang Kristen yang telah keluar dari gelap malam ke dalam
terang Allah.
i. Maksud dibalik kata percabulan adalah “hasrat cabul.” Mendeskripsikan seseorang yang
tidak menghargai kesucian dan kebenaran seks.
ii. Hawa nafsu
merujuk terhadap manusia yang sudah kehilangan rasa malunya. Mereka tidak lagi
peduli tentang apa yang orang-orang pikirkan dan malah memamerkan dosa mereka
dengan bangganya.
d. Perlengkapan senjata terang berarti Tuhan Yesus Kristus sendiri. Ketika
kita mengenakan Kristus pada diri kita, kita mengenakan semua perlengkapan dari
Allah dan diperlengkapi baik untuk bertahan maupun menyerang.
i. “Mengenakan
Kristus adalah kiasan yang kuat dan hidup. Ini berarti lebih dari sekedar mengenakan sifat dari Tuhan Yesus Kristus,
lebih kepada Biarlah Tuhan Yesus Kristus
sendiri yang menjadi perlengkapan yang saudara kenakan.” (Morris)
e. Tapi, kita masih dipanggil untuk janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Kita memiliki tugas untuk dikerjakan dalam hal ini hidup dengan sopan, seperti pada siang hari
– bukan berarti bahwa Yesus yang bekerja untuk
kita sementara kita bersantai; melainkan, Dia bekerja melalui kita sebagaimana kita bersedia dan secara aktif bekerja
bersama Dia.
f. Allah menggunakan kutipan ini untuk menunjukkan
pada Augustine, ahli ilmu agama terkenal pada masa gereja mula-mula, bahwa dia bisa benar-benar hidup Kristen melalui
kuasa Roh Kudus – yang harus dia lakukan hanyalah bekerja. Begitu juga kita.
Saturday, 4 April 2015
Saturday, 21 March 2015
Dia sebenarnya menyayangi aku, aku hanya tidak tahu saja
Christin adalah nama kakak perempuanku dan satu-satunya kakakku (tentu saja, karena aku anak kedua). Dia lahir dua tahun lebih awal dariku pada 7 Agustus 1990 yang berarti dia berzodiak Leo. Aku tidak percaya akan zodiak tapi mengenal kakakku dan zodiak yang dia miliki berlambang singa itu membuat sebuah pengecualian. Yes, bagaimana tidak? Dia seorang pemarah dan pemangsa. Persis seperti seekor singa. Emosinya seringkali meletup seperti bom berskala kecil yang tidak mematikan tapi cukup bisa membuatmu terluka. Kalau teroris seringkali memberi muatan tajam pada bom yang dibuatnya agar saat meledak benda-benda itu akan melukai orang di sekitarnya maka yang harus dihindari saat Christin "meledak" adalah kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Hahahaha. Butuh bertahun-tahun bagiku, dan tentu saja menjadi lebih sangat mudah bagiku setelah aku menerima Yesus, untuk menahan kesabaran agar tidak bertengkar sengit dengannya karena tersinggung setelah mendengar kata-katanya. Yah, pada dasarnya dia tidak akan begitu marah kalau kami adik-adiknya patuh pada dia. Tapi, seperti yang semua orang tahu, tidak semua adik bisa berlaku manis. Memiliki satu adik keras kepala sudah bisa membuatmu pening, apalagi saat kau memiliki enam dari mereka. Orang tua kami selalu meminta dia menjaga kami saat mereka akan pergi. Titin atau Empeng (begitu kami memanggilnya karena porsi tubuh kecil dan kurusnya) akan bersikap memerintah sebagaimana seorang komandan yang diberikan mandat oleh jenderal untuk memimpin prajurit dan menjagai markas selama mereka tidak ada. Masalahnya adalah para prajurit tidak suka menuruti komandan dan cenderung melawan. Komandan pun marah karena merasa tidak dihargai (yang adalah wajar) dan mulai mengamuk. Dia berpikir saat dia mengamuk para prajurit akan mulai mendengarkan dan dia benar. Para prajurit (dengan bermalas-malasan) lebih memilih melakukan perintah komandan daripada mendengarkan ocehannya. Tugas yang diberikan sebenarnya cukup mudah dan memang adalah tugas harian kami, tapi sejak kapan anak-anak suka mengerjakan tugas rumah. Aku sangat ingat bagaimana perasaanku setiap saat orangtua kami mulai bersiap-siap akan pergi. Layaknya perasaan anak kecil yang menanti datangnya hari ulang tahunnya dan tidak sabar ingin menerima dan membuka kadonya. Kado yang kutunggu adalah "kebebasan" saat orangtuaku pergi. Kebebasan tidur-tiduran, kebebasan menonton tivi, kebebasan mengobrol dengan temanku di telepon, kebebasan membaca komik atau novel. kebebasan melanjutkan menonton film di komputer dan lainnya. Tapi, tentu saja mamaku tidak akan pergi tanpa meninggalkan mandat apapun. Tiap kami diberikan tugas untuk dikerjakan selama mereka pergi dan Titin akan jadi pengawasnya. Jadi, demi mencicipi sedikit kebebasan yang kami inginkan, kami pasti akan melawan perintah sang "komandan".
Hingga poin ini aku berhenti sebentar untuk memikirkan alasan kenapa aku ingin membuat postingan tentang kakakku. Terlepas dari fakta bahwa aku merindukannya dan beberapa jam yang lalu kami baru saja saling mengirimkan pesan BBM yang cukup panjang, aku juga berusaha mengingat momen-momen yang pernah kuhabiskan dengannya. Aku berusaha menggali bagian otakku yang berfungsi menyimpan momen-momen yang kuhabiskan bersama anggota keluargaku khususnya bersama Titin (seandainya aku punya folder khusus untuk menyimpan itu semua) dan sayangnya aku tidak memiliki atau tidak terlalu mengingat banyak hal tentang itu. Itu membuatku sadar betapa sedikit waktu yang kuhabiskan bersama dia dan aku menyesalinya. Aku memang menghabiskan 20 tahun hidupku tinggal di bawah atap yang sama dengan dia, aku berbagi oksigen dengan dia di kamar yang sama, kami memiliki ruang ganti pakaian yang sama, kami saling bertukar pakaian atau celana (dia sering memarahiku karena membuat longgar pakaiannya atau memakainya tanpa ijin), kami menonton tivi di ruang keluarga yang sama, dan seterusnya. Lalu, kenapa aku hanya mengingat sedikit hal berkesan tentang dirinya? Sejenak aku berpikir dan lalu aku mengerti. Kami tinggal bersama bahkan tumbuh bersama tapi tidak pernah benar-benar berusaha untuk saling mengenal satu sama lain. Lebih tepatnya kami tidak pernah ingin saling mencampuri kehidupan pribadi masing-masing, terutama saat kami mulai beranjak dewasa dan memiliki teman kami masing-masing. Contohnya, aku tahu dia memiliki pacar (dulu) tapi aku tidak pernah bertanya bagaimana mereka bertemu, kenapa dia menyukainya, kenapa dia marah padanya, kenapa dia menangis karenanya, kenapa dia membanting handphone saat berbicara dengannya, dan masih banyak kenapa yang lain. Lalu, kenapa aku tidak bertanya? Well, aku tidak melakukannya karena menurutku (pada waktu itu) itu bukan urusanku. Pemikiran ini seharusnya hanya ada saat aku melihat orang lain mengalaminya, tapi jika itu adalah saudara kandungku dalam hal ini Titin semestinya aku tidak boleh berpikir begitu, bukan? Maksudku dia saudaraku, kami berbagi darah yang sama, seharusnya aku lebih peduli dan tidak ragu mengusik kehidupan pribadinya. Bagaimana bisa aku begitu tidak peduli? Jawabannya adalah karena aku tidak begitu menyayanginya. Karena bagiku dia adalah seorang pemarah yang menyebalkan. Karena yang kuingat dari sosoknya hanyalah dia yang sedang memarahi dan mengomeli aku dan adikku yang lain. Aku tidak menyukainya dan menyalahkannya karena begitu emosian dan membuatku tidak suka menghabiskan waktu bersamanya. Tapi itu aku. Apakah aku pernah tahu atau bahkan memikirkan perasaannya? Aku sedang melakukannya sekarang. Aku ingat dia pernah begitu terlihat depresi dan marah saat kami tidak mau mendengarkannya. Dia terlihat sangat sedih. Aku tidak begitu peduli saat itu karena mempertahankan keegoisanku untuk bisa "bebas". Sekarang saat aku punya banyak waktu untuk memikirkannya aku menyesal. Seharusnya aku bisa menjadi adik yang lebih penurut dan tidak menyusahkannya. Dia sudah berusaha keras memikul tanggung jawab sebagai seorang kakak untuk menjagai kami adik-adiknya. Apakah kami pernah menghargai itu? Jarang sekali. Apakah aku pernah mengucapkan terima kasih karena dia sudah membantu mama merawatku saat aku masih bayi? Apakah pernah aku berterimakasih padanya karena telah mengipasi aku dan adikku saat kami tidur dan cuaca begitu panas? Apakah aku pernah memujinya karena tampil begitu cantik saat kami hendak ke gereja bersama? Apakah aku pernah berterimakasih karena dia merelakanku membuat longgar pakaiannya? Apakah aku pernah dengan tulus berterimakasih padanya karena telah berusaha sebisanya menjadi kakak yang baik? Tidak. Aku tidak pernah. Aku hanya terlalu egois dan tidak pernah melakukannya. Aku tidak menyukai diriku yang seperti itu. Memikirkan diriku yang begitu egois membuatku muak. Seharusnya kami berdua menghabiskan lebih banyak waktu berdua. Kami bisa menjadi partners in crime yang luar biasa. Dan, sekarang saat aku tinggal jauh darinya aku baru menyadari betapa aku merindukan omelannya. Yes, dia memang menyebalkan tapi dia menyayangiku, aku hanya tidak tahu saja.
Saturday, 20 December 2014
Momen-momen Kecil #1
Kebanyakan orang pasti pernah membolos, bahkan ada yang menjadikan bolos sebagai kegiatan rutin. Sensasi membolos baru pernah aku rasakan dan aku coba saat duduk di kelas 3 SMP. Kalau diingat-ingat itu kejadian yang cukup lucu dan polos. Aku hanya ingin membagikannya karena aku tidak ingin momen itu kusimpan sendiri dan sebelum aku pernah membagikannya aku sudah meninggal.
Saat itu sekolahku seperti kebanyakan sekolah lain mengadakan kelas persiapan menghadapi ujian bagi murid-murid kelas 3. Entah mereka yang tidak peduli atau bagaimana, maksudku bahkan kami (tidak semua) tidak terlalu menyukai kelas regular yang harus kami ikuti setiap hari (Senin-Sabtu, kalau saja ada yang tidak tahu), bagaimana bisa dengan tanpa perasaan mereka memberi kami kelas tambahan. Seakan mereka memotong waktu bermainku dan teman-temanku, ini termasuk membaca kliping majalah anak muda di perpustakaan daerah dan merobek gambar aktor/artis favorit dan artikel menarik, mengunjungi warnet dan mencari informasi tentang selebriti luar negeri, membaca komik gratis di toko buku Gr*media, wisata kuliner murah meriah, mengunjungi toko aksesoris favorit kami (Louise Art Shop) karena ada anak pemilik tokonya yang tampan, berkeliling kota dengan angkutan umum yang super heboh, dan masih banyak kegiatan sederhana lain yang membawa kesenangan bagi kami. Sungguh tidak berperasaan (menurutku).
Setiap sekolah pasti memiliki satu atau beberapa guru yang paling ditakuti, yang akan diberi gelar 'kehormatan', KILLER. Hari itu, salah satu dari beberapa guru killer yang dimiliki sekolahku mendapat jadwal mengajar di kelas tambahanku. Dia seorang guru Bahasa Inggris yang juga adalah seorang Wakil Kepala Sekolah. Aku dan sahabatku, Raisa, memutuskan membolos di hari itu. Sambil menuliskan ini aku mencoba memikirkan jawaban dari pertanyaan 'Mengapa kami membolos saat Pak Suban yang mengajar?' Apakah kami hanya ingin pamer kalau kamu cukup berani untuk membolos dari kelasnya? Sebegitu membosankankah kelasnya sehingga kami membolos? Atau karena kemungkinan sensasi membolos dari kelasnya akan lebih kuat dan membuat kami bisa menjadikan itu salah satu sejarah masa muda terhebat yang pernah kami miliki dan bisa kami ingat sepanjang hidup kami. Entahlah. Mungkin saja ketiga kemungkinan jawaban itu merupakan keseluruhan jawabannya.
Raisa, sahabatku (kami masih bersahabat hingga hari ini, tadi pagi dia baru saja mengirimkan pesan singkat bahwa dia akan mengikuti tes psikotes untuk bisa bekerja di salah satu bank di kota tempat tinggalnya, Kupang, dan memintaku mendukungnya dengan doa-aku harap dia berhasil) telah lebih dahulu mencicipi asam garam dunia bolos-membolos, dia sudah lebih ahli dalam hal ini. Tapi itu tidak membuatnya menjadi planner utama dari aksi kami. Kami berdua sama-sama merencanakannya, kami telah memikirkan tempat-tempat yang akan kami datangi setelah berhasil melewati gerbang utama sekolah. Tentu saja, Louise Art Shop masuk dalam list kami. Keluar dari sekolah kami bukanlah hal yang terlalu sulit: (1) semua guru sudah akan sibuk menuju kelas tempat mereka mengajar kelas tambahan sesaat setelah bel tanda mulai berbunyi (2) gerbang sekolah kami selalu terbuka lebar tanpa diawasi security (3) bentuk sekolahku yang lebih terpusat ke arah dalam membuat sulit bagi orang lain untuk bisa melihat adanya pergerakan yang dilakukan secara diam-diam. Aku dan Raisa telah berdiri di lorong sekolah menunggu kelas tambahan dimulai, saat kami mulai mendengar suara beberapa orang guru yang mau memulai kelasnya kami pun mulai pelan-pelan sambil sedikit berlari menyusuri tembok kelas yang paling dekat posisinya dengan gerbang sekolah. Sesampainya di ujung tembok kelas tersebut kami mulai melihat keadaan sekitar gerbang kalau-kalau ada guru yang mengenali kami berkeliaran, kami menghindari mereka karena kami ingin berpura-pura menjadi adik kelas yang baru saja pulang dan berbaur dengan adik kelas yang sesungguhnya. Walaupun kami cukup terkenal di sekolah (sedikit sombong) tapi kami mesti tetap berhati-hati. Setelah yakin bahwa keadaannya aman kami pun berusaha bersikap tenang dan berjalan keluar gerbang seakan kami baru saja pulang. Kami sedikit gugup dan berharap nama kami tidak dipanggil sebelum kami keluar melewati gerbang. Perjalanan melewati gerbang terasa lebih jauh dari biasanya karena keinginan kami untuk bisa segera keluar. Kami berhasil.
Setelah melewati gerbang, kami masih harus berhati-hati apabila bertemu guru kami yang tidak bertugas mengajar di hari itu dan masih berdiri diluar pagar sekolah menunggu angkutan umum. Mereka semua telah pulang, untungnya. Tentu saja, tidak ada yang mau berlama-lama berdiri di bawah terik panas matahari untuk menunggu angkutan pulang, terlebih lagi jika kamu sudah tua dan capek menghadapi kumpulan pengacau kecil seharian. Kami langsung berlari menyusuri pagar menuju Louise dan berharap bisa bertemu anak pemilik toko yang tampan dan pandai bermain gitar itu. Kami memanggil dia Taf, karena dari informasi yang kudengar saat aku hendak membayar barang yang kubeli di tokonya saat ibunya yang bertugas sebagai kasir memanggilnya begitu (Raisa sangat senang saat mengetahui namanya). Sayangnya, kami tidak berhasil melihat dia hari itu, dan akhirnya memutuskan untuk pergi membaca majalah di perpustakaan daerah. Aku tidak begitu ingat kenapa, apakah kami bosan dengan majalah-majalah yang hampir semua telah kami baca atau karena ada alasan lain, tapi aku tidak ingat kami benar-benar membaca saat itu. Aku ingat kami sedang duduk, dengan masih menggunakan seragam kami, diatas aspal gerbang keluar perpustakaan yang langsung terhubung dengan jalan utama tempat kami biasa menunggu angkutan umum. Kami mengobrolkan hal-hal random dan juga kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa membuat kami ketahuan saat membolos, apa yang akan teman-teman kami katakan tentang 'keberanian' kami, dan lainnya. Tiba-tiba Raisa bangkit berdiri dan menyuruhku melakukan hal yang sama. Aku mengikutinya. Kami berjalan masuk ke arah perpustakaan. Setelah sampai sedikit ke arah dalam, dia memberitahuku kalau tadi dia melihat ada orang yang menyorotkan kamera ke arah kami dan dia langsung terpikir kalau itu adalah wartawan koran lokal yang sedang mencoba mencari bahan berita tentang kenakalan pelajar, yang salah satunya adalah membolos. Kami lansung dengan sedikit histeris membayangkan seandainya gambar kami membolos benar-benar dimasukkan sebagai berita koran. Itu akan sangat memalukan. Terakhir kali ada berita mengenai pelajar yang tawuran dan saling melempar batu. Kami melihat gambar yang dicetak di salah satu koran tanpa diedit. Bayangkan wajahmu terpampang di koran sedang tawuran dengan jelas, sangat memalukan. Seluruh penduduk kota melihatmu di koran sedang melempari orang lain dengan batu. Kamu jelas-jelas tidak menginginkan itu terjadi. Kami berharap mereka tidak berhasil mendapatkan gambar kami dan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya kami pun memutuskan untuk pulang. Hari itu kami berdua menghidupi masa remaja kami yang tidak ingin kami habiskan dengan membosankan. Ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan, tapi paling tidak kami memiliki momen untuk diingat bersama. Persahabatan sepatutnya membawamu ke arah yang lebih baik, aku tahu itu. Tapi sebagai anak umur belasan tahun, aku tentu saja tidak peduli. Aku tidak mendorong siapapun yang masih berstatus pelajar untuk membolos, sekolah itu penting. Aku hanya ingin kalian ingat bahwa saat kalian hidup dengan membosankan tanpa berani mengambil resiko kalian tidak akan bisa memiliki momen-momen untuk diingat. Tapi janganlah meniruku, kalian ciptakanlah momen-momen keberhasilan masa muda kalian. Teruslah menuai prestasi demi prestasi. Buatlah masa muda yang bisa kalian banggakan di saat kalian sudah dewasa. Terus kembangkan dan gali potensi-potensi luar biasa dari diri kalian. Tuhan menciptakan kalian dengan luar biasa untuk tujuan yang luar biasa. Mulailah mencari tahu apa tujuan itu. Bangunlah pergaulan yang bisa mendukung kalian mencapai tujuan itu, dan tentu saja mendekatlah pada Pencetus tujuan itu, yaitu Tuhan sendiri.
Aku harap tulisan ini tidak membosankan, aku menuliskannya (mengetik lebih tepatnya) dengan penuh semangat dan harapan bahwa kalian yang membaca akan menyukainya dan mau menantikan tulisan-tulisanku selanjutnya.
Terimakasih sudah mau meluangkan waktu kalian untuk membacanya. Kritik dan saran selalu akan dengan senang aku terima.
Hwaiting!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
